A.
Definisi
Siarosis
hepatis adalah penyakit kronis hati akibat tersumbat saluran empedu serta pus
sehingga timbul ajaringan baru yabg berlebihan yang tidak berhubungan
yang di kelilingi oleh jaringan perut (bruner and sudarth).
Siarosis
hepatis adalah penyakit yang difus di tandai dengan adanya pembentukan
jaringan ikat disertai nodul .(marillyn E. Doengoes 1996)
Sirosis
hepatis adalah penyakit yang ditandai dengan adanya peradangan difus dan
membran pada hati, diikuti dengan proliferasi jaringan ikat, degenerasi dan
regresi sel-sel hati, sehingga timbul kekacauan dalam susunan parenkim hati
(Mansjoer, 2001).
Kesimpulan: Dari
beberapa pengertian di atas dapat di simpulkan bahwa siarosis hepatis adalah penyakit menahun di tandi
dengan adanya gangguan struktur hati yaitu
timbulnya jaringan baru yang berlebihan dan tidak saling berhubungan yang di kelilingi oleh jaringan perut
serta gangguan aliran darah ke hati.
B.
Etiologi
Penyebab yang pasti dari
Sirosis Hepatis sampai sekarang belum jelas.
1. Faktor
keturunan dan malnutrisi
WATERLOO (1997)
berpendapat bahwa faktor kekurangan nutrisi terutama kekurangan protein hewani
menjadi penyebab timbulnya Sirosis Hepatis. Menurut CAMPARA (1973) untuk
terjadinya Sirosis Hepatis ternyata ada bahan dalam makanan, yaitu kekurangan
alfa 1-antitripsin.
- Hepatitis virus
Hepatitis virus sering
juga disebut sebagai salah satu penyebab dari Sirosis Hepatis. Dan secara
klinik telah dikenal bahwa hepatitis virus B lebih banyak mempunyai
kecenderungan untuk lebih menetap dan memberi gejala sisa serta menunjukkan perjalanan
yang kronis bila dibandingkan dengan hepatitis virus A. penderita dengan
hepatitis aktif kronik banyak yang menjadi sirosis karena banyak terjadi
kerusakan hati yang kronis.
Sebagaimana
kita ketahui bahwa sekitar 10 % penderita hepatitis virus B akut akan menjadi
kronis. Apalagi bila pada pemeriksaan laboratories ditemukan HBs Ag positif dan
menetapnya e-Antigen lebih dari 10 minggu disertai tetap meningginya kadar asam
empedu puasa lebih dari 6 bulan, maka mempunyai prognosis kurang baik (Sujono
Hadi).
- Zat hepatotoksik
Beberapa
obat-obatan dan zat kimia dapat menyebabkan terjadinya kerusakan fungsi sel
hati secara akut dan kronik. Kerusakan hati secara akut akan berakibat nekrosis
atau degenerasi lemak. Sedangkan kerusakan kronik akan berupa Sirosis Hepatis.
Pemberian bermacam obat-obatan hepatotoksik secara berulang kali dan terus
menerus. Mula-mula akan terjadi kerusakan setempat, kemudian terjadi kerusakan
hati yang merata, dan akhirnya dapat terjadi Sirosis Hepatis. Zat hepatotoksik
yang sering disebut-sebut adalah alcohol. Efek yang nyata dari etil-alkohol
adalah penimbunan lemak dalam hati (Sujono Hadi).
- Penyakit Wilson
Suatu
penyakit yang jarang ditemukan, biasanya terdapat pada orang-orang muda dengan
ditandai Sirosis Hepatis, degenerasi ganglia basalis dari otak, dan terdapatnya
cincin pada kornea yang berwarna coklat kehijauan disebut Kayser
Fleiscer Ring. Penyakit ini diduga disebabkan defisiensi bawaan dan
sitoplasmin.
- Hemokromatosis
Bentuk sirosis yang
terjadi biasanya tipe portal. Ada 2 kemungkinan timbulnya hemokromatosis, yaitu
:
·
sejak dilahirkan, penderita mengalami kenaikan
absorpsi dari Fe.
·
kemungkinan didapat setelah lahir (aquisita),
misalnya dijumpai pada penderita dengan penyakit hati alkoholik. Bertambahnya
absorpsi dari Fe, kemungkinan menyebabkan timbulnya Sirosis Hepatis.
- Sebab-sebab lain
·
kelemahan jantung yang lama dapat menyebabkan
timbulnya sirosis kardiak. Perubahan fibrotik dalam hati terjadi sekunder
terhadap anoksi dan nekrosis sentrilibuler.
·
sebagai akibat obstruksi yang lama pada saluran
empedu akan dapat menimbulkan sirosis biliaris primer. Penyakit ini lebih
banyak dijumpai pada kaum wanita.
·
penyebab Sirosis Hepatis yang tidak diketahui
dan digolongkan dalam sirosis kriptogenik. Penyakit ini banyak ditemukan di
Inggris (menurut Reer 40%, Sherlock melaporkan 49%). Penderita ini sebelumnya
tidak menunjukkan tanda-tanda hepatitis atau alkoholisme, sedangkan dalam
makanannya cukup mengandung protein.
C.
Klasifikasi
Ada tiga tipe sirosis
atau pembentukan parut dalam hati :
1. sirosis portal
laennec (alkoholic, nutrisional) , dimana jaringan parut secara khas
mengelilingi daerah portal. Sirosis ini paling sering disebabkan oleh
alkoholisme kronis dan merupakan tipe sirosis yang paling sering ditemukan di
negara barat.
2. sirosis
poscanekrotik, dimana terdapat pita jaringan parut yang lebar sebagai
akibat-lanjut dari hepatitis virus akut yang terjadi sebelumnya.
3. sirosis bilier,
dimana pembentukan jaringan parut terjadi dalam hati disekitar saluran empedu.
Tipe ini biasanya terjadi akibat obstruksi bilier yang kronis dan infeksi
(kolangitis) ; insidensnya lebih rendah dari pada insiden sirosis lainnya dan
poscanekrotik.
Bagian
hati yang terutama terlibat dalam sirosis terdiri atas ruang portal dan
periportal tempat kanalikulus biliaris dari masing-masing lobulus hati
bergabung untuk membentuk saluran empedu dalam hati. Daerah ini menjadi tempat
inflamasi dan saluran empedu akan tersumbat oleh empedu serta pus yang
mengental. Hati akan berupaya untuk membentuk saluran empedu yang baru ; dengan
demikian akan terjadi pertumbuhan jaringan yang berlebihan yang terutama
terdiri atas saluran empedu yang baru dan tidak berhubungan yang dikelilingi
oleh jaringan parut
D.
Patofisiologi
Meskipun ada beberapa
faktor yang terlibat dalam etiologi sirosis, konsumsi minuman beralkohol
dianggap sebagai faktor penyebab yang utama. Sirosis terjadi dengan frekuensi
paling tinggi pada peminum minuman keras. Meskipun difesiensi gizi dengan
penurunan asupan protein turut menimbulkan kerusakan hati pada sirosis, namun
asupan alkohol yang berlebihan merupakan faktor penyebab yang utama pada
pelemakan hati dan konsekuensi yang ditimbulkannya. Namun demikian, sirosis
juga pernah terjadi pada individu yang tidak memiliki kebiasaan minum-minuman
keras dan pada individu yang dietnya normal tetapi dengan konsumsi alkohol yang
tinggi.
Sebagian individu
tampaknya lebih rentan terhadap penyakit ini dibanding individu lain tanpa
ditentukan apakah individu tersebut memiliki kebiasaan meminum minuman keras
ataukah menderita malnutrisi. Faktor lainnya dapat memainkan peran, termasuk
pajanan dengan zat kimia tertentu (karbon tetraklorida, naftalen terklorinasi,
arsen atau fosfor) atau infeksi
A.
Manifestasi Klinis
Manifestasi klinis dari
penyakit ini mencakup gejala ikterus dan febris yang intermiten. Pada mulanya,
hati akan membesar, menjadi keras dan ireguler; akhirnya, hati tersebut
mengalami atrofi. Terapi sirosis hepatis sama seperti terapi untuk setiap
bentuk insufisiensi hati yang kronis.
1.
Pembesaran hati
Pada
awal perjalanan sirosis, hati cenderung membesar dan sel-selnya dipenuhi oleh
lemak. Hati tersebut menjadi keras dan memiliki tepi tajam yang dapat diketahui
melalui palpasi. Nyeri abdomen dapat terjadi sebagai akibat dari pembesaran
hati yang cepat dan baru saja terjadi sehingga mengakibatkan regangan pada selubung
fibrosa hati (kapsula Glissoni). Pada perjalanan penyakit yang lebih lanjut,
ukuran hati akan berkurang setelah jaringan parut menyebabkan pengerutan
jaringan hati. Apabila dapat dipalpasi, permukaan hati akan teraba
berbenjol-benjol (noduler).
2.
Obstruksi Portal
dan Asites.
Manifestasi lanjut sebagian
disebabkan oleh kegagalan fungsi hati yang kronis dan sebagian lagi oleh
obstruksi sirkulasi portal. Semua darah dari organ-organ digestif praktis akan
berkumpul dalam vena porta dan dibawa ke hati. Karena hati yang sirotik tidak
memungkinkan pelintasan darah yang bebas, maka aliran darah tersebut akan
kembali ke dalam limpa dan traktus gastrointestinal dengan konsekuensi bahwa
organ-organ ini akan menjadi tempat kongesti pasif yang kronis; dengan kata
lain, kedua organ tersebut akan dipenuhi oleh darah. Dan dengan demikian tidak
dapat bekerja dengan baik. Pasien dengan keadaan semacam ini cenderung
menderita dispepsia kronis dan konstipasi atau diare. Berat badan pasien secara
berangsur-angsur mengalami penurunan.
Cairan yang kaya protein dan menumpuk di rongga peritoneal
akan menyebabkan asites. Hal ini ditunjukkan melalui perfusi akan adanya
shiting dullness atau gelombang cairan. Splenomegali juga terjadi.
Jaring-jaring telangiektsis, atau dilatasi arteri superfisial menyebabkan
jaring berwarna biru kemerahan, yang sering dapat dilihat melalui inspeksi
terhadap wajah dan keseluruhan tubuh.
3.
Varises
Gastrointestinal.
Obstruksi aliran darah lewat hati yang
terjadi lewat perubahan fibrotik juga mengakibatkan pembentukan pembuluh darah
kolateral dalam sistem gastrointestinal dan pemintasan (shunting) darah dari
pembulluh portal ke dalam pembuluh darah dengan tekanan yang lebih rendah.
Sebaigan akibatnya, penderita sirosis sering memperlihatkan distensi pembuluh
darah abdomen yang mencolok serta terlihat pada inspeksi abdomen (kaput
medusae), dan distensi pembuluh darah diseluruh traktus gastrointestinal.
Esofagus, lambung daan rektum bagian bawah merupakan daerah yang sering
mengalami pembentukan pembuluh darah kolateral. Distensi pembuluh darah ini
akan membentuk varises atau hemoroid tergantung pada lokasinya.
Karena fungsinya bukan untuk menanggung volume darah dan
tekanan yang tinggi akibat sirosis, maka pembuluh darah ini dapat mengalami
ruptur dan menimbulkan perdarahan. Karena itu, pengkajian harus mencakup
observasi untuk mengetahui perdarahan yang nyata dan tersembunyi dari traktus
gastrointestinal. Kurang lebih 25% pasien akan mengalami hematemesis ringan;
sisanya akan mengalami hemoragic masif dan ruptur varises pada lambung dan
esofagus.
4.
Edema.
Gejala lanjut lainnya pada sirosis hepatis
ditimbulkan oleh gagal hati yang kronis. Konsentrasi albumin plasma menurun
sehingga menjadi predisposisi untuk terjadinya edema. Produksi aldosteron yang
berlebihan akan menyebabkan retensi natrium serta air dan ekskresi kalium.
5.
Defisiensi
Vitamin dan Anemia.
Karrena pembentukan, penggunaan dan
penyimpaanan vitamin tertentu yang tidak memadai (terutama vitamin A, C, dan
K), maka tanda-tanda defisiensi vitamin tersebut sering dijumpai, khususnya
sebagai fenomen hemoragik yang berkaitan dengan defisiensi vitamin K. Gastritis
kronis dan gangguan fungsi gastrointestinal bersama-sama asupan diet yang tidak
adekuat dan gangguan fungsi hati turut menimbulkan anemia dan status nutrisi
serta kesehatan pasien yang buruk akan mengakibatkan kelelahan hebat yang
mengganggu kemampuan untuk melakukan aktivitas rutin sehari-hari.
6.
Kemunduran
mental.
Manifestasi klinik lainnya adalah kemunduran
fungsi mental dengan ensefalopati dan koma hepatik yang membakat. Karena itu,
pemeriksaan neurologi perlu dilakukan pada sirosis hepatis dan mencakup
perilaku umum pasien, kemampuan kognitif, orientasi terhadap waktu serta
tempat, dan pola bicara.
B. Pemeriksaan Diagnostik
a. Pemeriksaan
Laboratorium
1. Pada
darah dijumpai HB rendah, anemia normokrom nomosister, hipokrom
mikrosister/hipokrom makrosister.
2. Kenaikan
kadar enzim transaminase-SGOT, SGPT bukan merupakan petunjuk berat ringannya
kerusakan parenkim hati, kenaikan kadar ini timbul dalam serum akibat kebocoran
dari sel yang rusak, pemeriksaan billirubin, transaminase dan gamma GT tidak
meningkat pada sirosis inaktif.
3. Albumin
akan merendah karena kemampuan sel hati yang berkurang, dan juga globulin yang
naik merupakan cerminan daya tahan sel hati yang kurang dan menghadapi stress.
4. Pemeriksaan
CHE (kolinesterasi). Ini penting karena bila kadar CHE turun, kemampuan sel
hati turun, tapi bila CHE normal/tambah turun akan menunjukkan prognosis jelek.
5. Kadar
elektrolit penting dalam penggunaan diuretic dan pembatasan garam dalam diet,
bila ensefalopati, kadar Na turun dari 4 meg/L menunjukkan kemungkinan telah
terjadi sindrom hepatorenal.
6. Pemeriksaan
marker serologi seperti virus, HbsAg/HbsAb, HbcAg, HcvRNA, untuk menentukan
etiologi sirosis hati dan pemeriksaan AFP (Alfa Feto Protein) penting dalam
menentukan apakah telah terjadi transformasi ke arah keganasan.
b. Pemeriksaan
penunjang lainnya:
1. Radiologi
: dengan barium swallow dapat dilihat adanya varises esophagus untuk konfirmasi
hipertensi portal.
2. Esofagoskopi
: dapat dilihat varises esophagus sebagai komplikasi sirosis hati/hipertensi
portal.
3. Ultrasonografi
: pada saat pemeriksaan USG sudah mulai dilakukan sebagai alat pemeriksaan
rutin pada penyakit hati.
C. Penatalaksanaan
- Pembatasan aktifitas fisik tergantung pada penyakit dan toleransi fisik penderita. Pada stadium kompensata dan penderita dengan keluhan/gejala ringan dianjurkan cukup istirahat dan menghindari aktifitas fisik berat.
- Pengobatan berdasarkan etiologi.
- Diet
-
Protein diberikan 1,5-2,5 gram/hari. Jika terdapat
ensepalopati protein harus dikurangi (1 gram/kgBB/hari) serta diberikan diet
yang mengandung asam amino rantai cabang karena dapat meningkatkan penggunaan
dan penyimpanan protein tubuh. Dari penelitian diketahui bahwa pemberian asam
amino rantai cabang akan meningkatkan kadar albumin secara bermakna serta
meningkatkan angka survival rate.
-
Kalori dianjurkan untuk memberikan masukan kalori
150% dari kecukupan gizi yang dianjurkan.
-
Lemak diberikan 30%-40% dari jumlah kalori. Dianjurkan
pemberian dalam bentuk rantai sedang karena absorbsi-nya tidak memerlukan asam
empedu.
-
Vitamin, terutama vitamin yang larut dalam lemak
diberikan 2 kali kebutuhan yang dianjurkan.
-
Natrium dan cairan tidak perlu dikurangi kecuali
ada asites.
-
Makanan sebaiknya diberikan dalam jumlah yang
sedikit tapi sering.
- Menghindari obat-obat yang mempengaruhi hati seperti sulfonamide, eritromisin, asetami-nofen, obat anti kejang trimetadion, difenilhidantoin dan lain-lain.
- Medika-mentosa
Terapi medika mentosa pada sirosis tak hanya
simptomatik atau memperbaiki fungsi hati tetapi juga bertujuan untuk menghambat
proses fibrosis, mencegah hipertensi porta dan meningkatkan harapan hidup
tetapi sampai saat ini belum ada obat yang yang dapat memenuhi seluruh tujuan
tersebut.
-
Asam
ursodeoksilat merupakan asam empedu tersier yang mempunyai sifat
hidrofilik serta tidak hepatotoksik bila dibandingkan dengan asam empedu primer
dan sekunder. Bekerja sebagai kompentitif binding terhadap asam empedu toksik.
Sebagai hepatoproktektor dan bile flow inducer. Dosis 10-30 mg/kg/hari.
Penelitian Pupon mendapatkan dengan pemberian asam ursodeoksikolat 13-15
mg/kgBB /hari pada sirosis bilier ternyata dapat memperbaiki gejala klinis, uji
fungsi hati dan prognosisnya.
-
Kolestiramin bekerja dengan
mengikat asam empedu di usus halus sehingga terbentuk ikatan komplek yang tak
dapat diabsorbsi ke dalam darah sehingga sirkulasinya dalam darah dapat
dikurangi. Obat ini juga berperanan sebagai anti pruritus. Dosis 1
gram/kgBB/hari di bagi dalam 6 dosis atau sesuai jadwal pemberian susu.
-
Colchicines 1 mg/hari
selama 5 hari setiap minggu memperlihatkan adanya perbaikan harapan hidup
dibandingkan kelompok placebo. Namun penelitian ini tidak cukup kuat untuk
mereko-mendasikan penggunaan colchicines jangka panjang pada pasien sirosis
karena tingginya angka drop out pada percobaan tersebut.
-
Kortikosteroid merupakan anti
imflamasi menghambat sintesis kolagen maupun pro-kolagenase. Penggunaan
prednisone sebagai terapi pada hepatitis virus B kronik masih diperdebatkan.
Penelitian propsektif pada anak Italia dengan hepatitis kronik aktif yang
disebabkan hepatitis B virus menunjukan tidak adanya keuntungan dari pemberian
pred-nisolon.
-
D-penicillamine. Pemberian
penicil- linamine selama 1-7 tahun (rata-rata 3,5 tahun) pada pasien dengan
Indian Chil hood cirrhosis ternyata memberikan perbaikan klinik, biokimia dan
histology. Namun penelitian Boderheimer, mendapatkan bahwa pemberian
penicillinamine 250 mg dan 750 mg pada pasien sirosis bilier primer ternyata
tak memberikan keuntungan klinis. Juga peningkatan dosis hanya memberatkan efek
sam-ping obat, sedangkan penyakitnya tetap progresif.
-
Cyclosporine; pemberian
cyclosporine A pada pasien sirosis bilier primer sebanyak 3 mg/kgbb/hari akan
menurunkan mortalitas serta memper-panjang lama dibutuhkannya transplantasi
hati sampai 50% disampingkan kelompok placebo.
-
Obat yang menurunkan tekanan vena portal, vasopressin, somatostatin, propanolol dan
nitrogliserin.
-
Anti virus pemberiannya
bertujuan untuk menghentikan replikasi virus dalam sel hati.
- Mencegah dan mengatasi komplikasi yang terjadi.
-
Pengobatan Hipertensi Portal
-
Asites, Asites dapat
diatasi dengan retriksi cairan serta diet rendah natrium (0,5 mmol/kgbb/hari),
10%-20% asites memberikan respon baik dengan terapi diet. Bila usaha ini tidak
berhasil dapat diberikan diuretik yaitu antagonis aldosteron seperti
spironolakton dengan dosis awal 1 mg/kgbb yang dapat dinaikkan bertahap 1
mg/kgbb /hari sampai dosis maksimal 6 mg/kgbb /hari. Pengobatan diuretik
berhasil bila terjadi keseimbangan cairan negatif 10 ml/kgbb/hari dan
pengurangan berat badan 1%-2%/hari. Bila hasil tidak optimal dapat ditambahkan
furosemid dengan dosis awal 1-2 mg/kgbb/hari dapat dinaikan pula sampai 6
mg/kgbb/hari. Parasentesis dapat diper- timbangkan pada asites yang
menye-babkan gangguan pernafasan dan juga terindikasi untuk asites yang
refrakter terhadap diuretika. Pada asites refrakter maupun yang rekuren juga
dapat dilakukan tindakan tranjugular intra hepatik portosistemic shunt.
Tamponade Balon
Penggunaan tamponade balon secara temporer untuk
menghentikan perdarahan SCBA pada sirosis hati dapat dipertimbangkan jika
pengobatan farmakologis tidak berhasil. Yang paling populer adalah
Sangstaken-Blakemore tube (SB tube) yang mempunyai tiga pipa dan dua balon
lambung dan esofagus. Komplikasi pemasangan SB tube yang menakutkan dan sering
berakibat fatal adalah pneumonia aspirasi, kerusakan esofagus (dari laserasi
sampai perforasi) dan obstruksi jalan napas karena migrasi balon ke dalam
hipofaring. Oleh karena itu, pemasangan SB tube sebaiknya hanya dilakukan oleh
mereka yang telah berpengalaman serta diikuti dengan observasi yang ketat. SB
tube sebaiknya jangan dipasang terlalu lama karena dikhawatirkan terjadinya
nekrosis. Selain itu, pemasangan balon ini memberikan rasa tidak enak bagi
pasien.
- Terapi Endoskopik
Pada perdarahan yang berasal dari pecahnya varises esofagus/varises
gaster, terdapat beberapa alternatif tindakan endoskopi terapeutik yang dapat
dilakukan.
a.
Skleroterapi dengan menggunakan etoksisklerol 1,5%
Penyuntikan dapat dilakukan intravarises atau
paravarises. Untuk itu diperlukan fungsi hemostatik yang cukup baik. Dilaporkan
bahwa pemberian somatostatin atau octreotide sebelum tindakan dapat menurunkan
risiko perdarahan durante maupun pasca-tindakan.
Beberapa penelitian melaporkan bahwa skleroterapi
endoskopis dapat mengontrol perdarahan SCBA akibat pecahnya varises esofagus
antara 70-90%, namun sebagian besar memerlukan tindakan skleroterapi lanjutan.
a.
Rubber Band Ligation
Akhir-akhir ini ligasi varises esofagus
makin banyak dilakukan, karena efektivitasnya yang lebih baik serta risiko
perdarahan durante tindakan dan komplikasinya yang lebih rendah dibanding
skleroterapi endoskopik. Ligasi varises esofagus dengan menggunakan overtube
saat ini telah banyak ditinggalkan, diganti dengan six shooter ligator atau
local five shooter ligator yang dikembangkan oleh Subbagian Gastroenterologi
Bagian Ilmu Penyakit Dalam FKUI/RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo, Jakarta. Di RSUPN
Dr. Cipto Mangunkusumo ada pengalaman penggunaan rubber band ligation pada
varises fundus dengan hasil yang cukup memuaskan (Aziz Rani, 1998)
a.
Bila titik lokasi perdarahan pada varises dapat
diidentifikasi, dapat disuntikkan preparat histoakril pada lesi tersebut
sehingga terbentuk gumpalan histoakril dalam lumen varises. Hal ini juga
dilakukan bila varises terletak pada fundus atau kardia lambung.
Yang juga sering menjadi masalah adalah perdarahan
bukan berasal dari varises yang ada, tetapi berasal dari gastropati hipertensi
portal dalam bentuk perdarahan difus mukosa lambung. Belum ada modalitas khusus
untuk menghentikan perdarahan pada awal penatalaksanaan keadaan ini, namun
golongan obat vasoaktif (vasopresin, somatostatin, atau octreotide) dapat
merupakan alternatif pilihan.
Untuk mengurangi kemungkinan perdarahan berulang
jangka panjang, dapat dipakai protokol pemberian propranolol atau operasi
shunting elektif atau percutaneous transhepatic obliteration (PTO) atau
tindakan transjugular-intrahepatic portosystemic shunting (TIPS).
- Tindakan Pembedahan
Pada keadaan-keadaan:
•
perdarahan masif sehingga terdapat keterbatasan
manfaat endoskopi baik untuk diagnosis maupun terapeutik karena lapang pandang
yang tertutup oleh bekuan darah, dan
•
berbagai modalitas pengobatan yang telah dilakukan
(farmakologik maupun endoskopik) tidak dapat menghentikan perdarahan.
dengan terus mengevaluasi keadaan
kegawatan, maka perlu dipertimbangkan intervensi bedah (transeksi esofagus dan
devaskularisasi). Namun keadaan umum pasien serta fungsi hati yang buruk sering
merupakan kendala toleransi operasi.
H. Komplikasi
Penyakit sirosis hati juga dapat
menyebabkan komplikasi-komplikasi penyakit lainnya di seputar organ hati akibat
sirosis hati, diantaranya :
- Edema dan ascites
Terjadi ketika sirosis hati menjadi parah yang
kemudian mengirim gejala dari komplikasi
penyakit ini ke
organ ginjal untuk menahan garam dan air di dalam tubuh. Awalnya kelebihan
garam dan air diakumulasi dalam jaringan dibawah kulit karena efek gaya berat
ketika berdiri atau duduk. Akumulasi atau penjumlahan kandungan air dan garam
inilah yang kemudian disebut dengan Edema.
Ketika sirosis
semakin memburuk keadaan akibat kelebihan garam dan air yang tertahan, cairan
juga mungkin meningkat dalam rongga perut antara dinding perut dan organ-organ
perut. Peningkatan dan tertahannya garam dan air disebut dengan Ascites yang
menyebabkan pembengkakan perut, ketidaknyamanan perut dan berat badan yang
semakin meningkat.
1.
Spontaneous bacterial periotonitis (SBP)
Cairan yang
mengandung air dan garam dan tertahan di dalam rongga perut yang disebut dengan
ascites yang merupakan tempat yang sempurna untuk pertumbuhan dan perkembang
biakan bakteri-bakteri. Secara normal, rongga perut juga mengandung sejumlah
cairan kecil yang berfungsi untuk melawan bakteri dan infeksi dengan baik.
Namun pada penyakit sirosis ini, cairan yang mengumpul dan kelebihan jumlah
cairan normal yang dimiliki rongga perut tidak mampu lagi untuk melawan infeksi
secara normal.
Kelebihan cairan
yang masuk ke dalam rongga perut kemudian masuk ke dalam usus dan kedalam
ascites yang kemudian menyebabkan infeksi disebut dengan spontaneous bacterial
peritonitis atau SBP. Spontaneous bacterial peritonitis atau SBP merupakan
suatu komplikasi dari sirosis yang dapat mengancam jiwa seseorang yang
terdiagnosa memiliki penyakit sirosis hati. Seseorang yang menderita komplikasi
SBP dari sirosis umumnya tidak menunjukkan gejala, tidak seperti gejala pada
sirosis umumnya yang dapat membuat tubuh demam, keidnginan, sakit perut, dan
kelembutan perut, diare dan memburuknya ascites.
- Perdarahan dari varises-varises kerongkongan (esophageal varices)
Pada sirosis
hati terdapat jaringan parut yang dapat menghalangi jalannya darah yang akan
kembali ke jantung dari usus-usus dan meningkatkan tekanan dalam vena portal
(hipertensi portal). Ketika terjadi
penekanan dalam vena portal meningkat, ia menyebabkan darah mengalir di sekitar
hati melalui vena-vena dengan tekanan yang lebih rendah untuk mencapai jantung.
Akibat dari
aliran darah yang meningkat dan peningkatan tekanan yang diakibatkan vena-vena
pada kerongkongan yang lebih bawah dan lambung bagian atas mengembang dan
mereka dirujuk sebagai esophageal dan gastric varices. Semakin tinggi tekanan
yang terjadi maka varises-varises dan lebih mungkin seorang pasien mengalami
perdarahan dari varices-varices kedalam kerongkongan (esophagus) atau lambung.
Perdarahan dari
varices-varices kerongkongan ini menunjukkan gejala seperti :
- Muntah darah
(muntah yang berupa darah merah yang bercampur dengan gumpalan-gumpalan atau
disebabkan oleh efek dari asam pada darah).
- Warna feces/kotoran
yang hitam dan bersifat ter disebabkan oleh perubahan-perubahan dalam darah
ketika kotoran atau sisa makanan yang akan dibuang tercampur bakteri kemudian
merubah warna dan tekstur feces menjadi hitam dan ter yang diolah terlebih
dahulu dalam usus yang disebut dengan melena.
- Sering pingsan
atau kepeningan orthostatic yang disebabkan tekanan darah yang semakin menurun
atau tekanan darah rendah, hal ini akan terjadi ketika duduk atau dalam suatu
posisi berbaring terlalu lama.
Perdarahan yang
terjadi bukan hanya di kerongkongan, namun juga dapat terjadi di usus
besar/kolon, sehingga perdarahan juga dapat terjadi dari varces-varices yang
terbentuk di dalam usus.
- Hepatic encephalopahty
Hepatic
encephalopahty yang merupakan suatu kondisi dimana tubuh ketika unsur-unsur
beracun berakumulasi secara cukup dalam darah, fungsi dari otak terganggu.
Gejala dari
hepatic encephalophaty ini cukup unik, seperti :
a.
Sering tidur di siang hari dan terjaga di malam
hari (kebalikan dari pola tidur yang normal)
b.
Mudah marah
c.
Penurunan kemampuan berkonsentrasi atau kefokusan yang semakin menurun terutama
melakukan suatu perhitungan-perhitungan
d.
Kehilangan memori atau kemampuan daya ingat
e.
Terlihat seperti orang yang kebingungan karena
tingkat kesadaran yang semakin tertekan.
Gejala demikian
dapat menyebabkan seseorang yang mengalami komplikasi pada hepatic
encephalopathy ini dapat menyebabkan koma dan mengancam pada kematian.
- Hepatorenal syndrome
Hepatorenal
syndrome atau sindrom kerusakan pada ginjal. Sindrom ini mengakibatkan
penurunan komplikasi yang serius diimana fungsi dari organ ginjal semakin
berkurang.
Hepatorenal
syndrome diartikan sebagai kegagalan yang sangat serius dan fatal pada
penurunan fungsi organ ginjal dalam membersihkan unsur-unsur dari darah dan
menghasilkan jumlah urin yang cukup banyak. Ginjal yang diketahui memiliki
tugas dan fungsinya sebagai penahan garam. Jika pada seseorang yang menderita
penyakit hati disertai oleh komplikasi demikian, maka yang harus dibenahi atau
diperbaiki adalah fungsi kerja organ hati dalam keadaan baik , maka ginjal akan
bekerja normal kembali. Komplikasi akibat penyakit sirosis yang merambah pada
terganggunya fungsi kerja organ ginjal ini diakibatkan oleh peningkatan
unsur-unsur beracun dalam darah ketika organ hati tidak lagi berfungsi dengan
baik.
- Kanker hati (hepatocellular carcinoma)
Sirosis yang
merupakan penyebab dari timbulnya berbagai komplikasi penyakit gangguan hati
ini dapat meningkatkan resiko pda timbulnya kanker hati yang awal mulanya kan
terbentuk tumor di dalam hati.
Gejala seseorang
yang beresiko terkena kanker hati :
1.
Mengalami sakit perut dan pembengkakan di perut
2.
Organ hati yang terkadang membesar, perut terlihat
seperti melembung seperti orang hamil
3.
Berat badan yang semakin berkurang dan menurun
secara cepat
4.
Terkadang demam
Kanker hati juga
dapat menyebabkan tubuh melepaskan banyak unsur-unsur penting dalam tubuh,
seperti menyebabkan terjadinya peningkatan jumlah sel darah merah
(erythrocytosis), gula darah yang rendah (hypoglycemia) dan meningkatkan jumlah
kalsium darah (hypercalcemia).
DATA DASAR PENGKAJIAN PASEIN:
- Aktivitas / istirahat.
Gejala : kelemahan, kelelahan, terlalu lelah.
Tanda : letargi, penurunan massa otot/tonus.
- Sirkulasi
Gejala : riwayat gagal jantung kronis, perikarditis, penyakit jantung rematik, kanker ( malfungsi hati menimbulkan gagal hati ).
- Eliminasi.
Gejala : flatus.
Tanda
: distensi abdomen ( hepatomegali, slenomegali, asites), penurunan atau
tidak adanya bising usus, feces warna tanah liat, melena, urine gelap,
pekat.
- Makanan / cairan.
Gejala : anoreksia, tidak toleren terhadap makanan / tidak dapat mencerna, mual / muntah.
Tanda
: Penurunan BB / peningkatan ( cairan ), penggunaan jaringan, odem omun
pada jaringan, kulit kering, turgor buruk, ikterik : angioma spider,
nafas berbau / fetor hepatikus, perdarahan gusi.
- Neurosensori.
Gejala : orang terdekat dapat melaporkan perubahan kepribadian, penurunan mental.
Tanda : Perubahan mental, bingung halusinasi, koma, bicara lambat / tak jelas, asterik ( ensefalofati hepatik ).
- Nyeri / kenyamanan.
Gejala : Nyeri tekan abdomen / nyeri quadrant kanan atas, pruritus, neuritis perifer.
Tanda : Perilaku berhati-hati / distraksi, fokus pada diri sendiri.
- Pernafasan.
Gejala : Dispnea.
Tanda : takipnea, pernafasan dangkal, bunyi nafas tambahan, ekspansi paru terbatas ( asites ), hipoksia.
- Keamanan.
Gejala : Pruritus.
Tanda
: Demam ( lebih umum pada sirpis alkoholik ), ikterik, ekimosis,
petekis, angioma sp[inder / teleangiektasi, eritema palmal.
- Seksualitas.
Gejala : ganguan mentruasi, impoten.
Tanda : Atropi testis, ginekomastia, kehilangan rambut ( dada, bawah lengan, pubis ).
K. DIAGNOSA KEPERAWATAN
- Hipertermi b.d Proses inflamasi
Tujuan : hipertermi dapat teratasi dalam waktu < 6 jam setelah dilakukan perawatan
Kriteria hasil : suhu tubuh dalam batas normal (36-37 ‘C)
Intervensi :
1) Catat suhu tubuh secara teratur
Rasional : memberikan dasar untuk deteksi hati dan evaluasi
2) Berikan kompres hangat
Rasional : meningkatkan tingkat kenyamanan dan menurunkan panas melalui proses konduksi serta evaporasi
3) Motivasi asupan cairan
Rasional : memperbaiki kehilangan cairan akibat perspirasi serta febris
4) Berikan antibiotic seperti yang diresepkan
Rasional : meningkatkan konsentrasi antibiotic serum yang tepat untuk mengatasi infeksi
5) Hindari kontak dengan infeksi
Rasional : meminimalkan resiko peningkatan infeksi, suhu tubuh serta laju metabolic
- Kelebihan volume cairan b.d mekanisme regulasi
Tujuan : Kelebihan volume cairan dapat teratas dalam jangka waktu 1-2 hari perawatan
Kriteria hasil : - volume cairan tubuh stabil
- Tidak ada edema atau asites
Intervensi :
1) Batas asupan natrium dan cairan
Rasional : meminimalkan pembentukan dan asites
2) Berikan diuuretik, suplemen kalium dan protein
Rasional : meningkatkan eksresi cairan lewat ginjal dan mempertahankan keseimbangan cairan
3) Catat asupan dan kekurangan cairan
Rasionalnya : menilai efektivitas terapi dan kecukupan asupan cairan
4) Ukur dan catat lingkar perut setiap hari
Rasionalnya : memanntau adanya asites atas penumpukan cairan
5) Jelaskan rasional pembatasan natrium dan cairan
Rasionalnya : meningkatkan pemahaman pasien dalam melakukan pembatasan cairan
- Nyeri b.d distensi abdomen
Tujuan : nyeri dapat teratasi atau terkontrol < 24 jam setelah di lakukan tindakan keperawatan
Kriteria hasil : - nyeri hilang atau terkontrol (skala 6)
- Klien merasa peningkatan kenyamanan
- Intervensi :
1) Kaji status nyeri
Rasional : perubahan dalam lokasi atau intensitas tidak umum tetapi dapat menunjukkan terjadinya komplikasi
2) Berikan posisi yang nyaman
Rasional : membantu meminimalkan nyeri karena gerakan
3) Ajarkan teknik relaksasi dan distraksi
Rasional : mengurangi ketergantungan terhadap analgesic dalam mengurangi nyeri
4) Berikan analgesic yang di resepkan
Rasional : menghilangkan rasanyeri dan meningkatkan penyembuhan
- Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b.d antreksia dan gangguan gastrointestinal
Tujuan : kebutuhan nutrisi dapat terpenuhi dalam waktu 1-3 shift dinas perawatan
Kriteria hasil : - peningkatan berat badan
- Statis nutrisi baik
Intervensi :
1) Motivasi pasien untuk makan makanan dan suplemen makanan
Rasional : motivasi sangat penting bagi penderita ansreksia
2) Anjurkan sedikit makan tetapi sering
Rasional : makan dengan porsi kecil dan sering lebih ditolelir oleh penderita anereksia
3) Hidangkan makanan yang menimbulkan selera dan menarik dalam penyajian
Rasional : meningkatkan selera makan dan sehat
4) Pelihara hygiene oral sebelum makan
Rasional : mengurangi citra rasa yang tidak enak dan merangsang nafsu makan
5) Kalaborasi
Rasional : sangat bermanfaat dalam pemberian diet