A.
Definisi
·
Hepatitis virus akut adalah
penyakit infeksi yang penyebarannya luas, walaupun efek utamanya pada hati
(syivi .A. price: 2005 hal: 485).
·
Hepatitis virus akut adalah
penyakit pada hati yang gejla utamanya berhubungan erat dengan adanya nekrosis
pada hati. Biasany disebabkan oleh virus yaitu virus hepatitis A, virus
hepatitis B, virus hepatitis C, dll. (Arief Mansjoer, 2001 : 513).
·
Hepatitis adalah suatu proses
peradangan difus ada jaringan yang dapat disebabkan oleh infeksi virus dan oleh reaksi toksik
terhadap obat-obatan serta bahan-bahan kimia. (Sujuno Hadi, 1999).
·
Hepatitis virus adalah infeksi
sistemik oleh virus disertai nekrosis dan klinis, biokimia serta seluler yang
kha (smeltzer, 2001).
·
Hepatitis merupakan penyakit
peradangan pada hati yang disebabkan oleh virus, bakteri, penyakit autoimun,
racun dan lain sebagainya. Virus hepatitis , sebagai penyebab hepatitis virus
telah banyak mengalami perkembangan. Saat ini, telah ditemukan jenis-jenis
virus hepatitis antara lain virus hepatitis A, B, C, D, E, F, dan G.
·
Hepatitis yang berlangsung
kurang dari 6 bulan disebut “Hepatitis
akut”, hepatitis yang berlangsung lebih dari 6 bulan disebut “hepatitis kronis”
Penyebab Hepatitis biasanya terjadi karena virus, terutama salah satu dari kelima virus hepatitis, yaitu A, B, C, D atau E. Hepatitis juga bisa terjadi karena infeksi virus lainnya, seperti mononukleosis infeksiosa, demam kuning dan infeksi sitomegalovirus. Penyebab hepatitis non-virus yang utama adalah alkohol dan obat-obatan.
Penyebab Hepatitis biasanya terjadi karena virus, terutama salah satu dari kelima virus hepatitis, yaitu A, B, C, D atau E. Hepatitis juga bisa terjadi karena infeksi virus lainnya, seperti mononukleosis infeksiosa, demam kuning dan infeksi sitomegalovirus. Penyebab hepatitis non-virus yang utama adalah alkohol dan obat-obatan.
B.
Etiologi
Penyebab hepatitis
bermacam-macam akan tetapi penyebab utama hepatitis dapat dibedakan menjadi dua
kategori besar yaitu penyebab virus dan penyebab non virus. Sedangkan insidensi
yang muncul tersering adalah hepatitis yang disebabkan oleh virus.Hepatitis virus
dapat dibagi ke dalam hepatitis A, B, C, D, E, G. Hepatitis non virus
disebabkan oleh agen bakteri, cedera oleh fisik atau kimia, pada prinsipnya
penyebab hepatitis terbagi atas infeksi dan bukan infeksi. Hepatitis B dan C
dapat berkembang menjadi sirosis (pengerasan hati), kanker hati dan komplikasi
lainnya yang dapat mengakibatkan kematian.
Dalam masyarakat kita, penyakit hepatitis biasa dikenal sebagai penyakit kuning.Sebenarnya hepatitis adalah peradangan organ hati (liver) yang disebabkan oleh berbagai faktor. Faktor penyebab penyakit hepatitis atau sakit kuning ini antara lain adalah infeksi virus, gangguan metabolisme, konsumsi alkohol, penyakit autoimun, hasil komplikasi dari penyakit lain, efek samping dari konsumsi obat-obatan maupun kehadiran parasit dalam organ hati (liver). Salah satu gejala penyakit hepatitis (hepatitis symptoms) adalah timbulnya warna kuning pada kulit, kuku dan bagian putih bola mata.Peradangan pada sel hati dapat menyebabkan kerusakan sel-sel, jaringan, bahkan semua bagian dari organ hati (liver). Jika semua bagian organ hati (liver) telah mengalami kerusakan maka akan terjadi gagal hati (liver) yang menyebabkan kematian.
Dalam masyarakat kita, penyakit hepatitis biasa dikenal sebagai penyakit kuning.Sebenarnya hepatitis adalah peradangan organ hati (liver) yang disebabkan oleh berbagai faktor. Faktor penyebab penyakit hepatitis atau sakit kuning ini antara lain adalah infeksi virus, gangguan metabolisme, konsumsi alkohol, penyakit autoimun, hasil komplikasi dari penyakit lain, efek samping dari konsumsi obat-obatan maupun kehadiran parasit dalam organ hati (liver). Salah satu gejala penyakit hepatitis (hepatitis symptoms) adalah timbulnya warna kuning pada kulit, kuku dan bagian putih bola mata.Peradangan pada sel hati dapat menyebabkan kerusakan sel-sel, jaringan, bahkan semua bagian dari organ hati (liver). Jika semua bagian organ hati (liver) telah mengalami kerusakan maka akan terjadi gagal hati (liver) yang menyebabkan kematian.
C.
Klasifikasi
Terdapat dua jenis virus yang menjadi
penyebab yaitu RNA (Ribo Nucleic Acid) dan DNA (Deoksi Nucleic Acid).
1.
Hepatitis A/Hepatitis infeksius
Seringkali
infeksi hepatitis A pada anak-anak tidak menimbulkan gejala, sedangkan pada
organ dewasa menyebabkan gjala mirip flu, rasa lelah, deam, diare, mual, nyeri
perut, mata kuning dan hilangnya nafsu makan.penyakit ini ditularkan terutama
melalui kontaminasi oral fekal akibat hiygne yang buruk atau makanan yang
tercemar. Geala hilang sama sekali etelh 6-12 minggu. Orang yang terinfeksi
hepatitis A akan kebal terhadap penyakit tersebut. Berbeda dengan hepatitis B
dan C, infeksi hepatitis A tidak berlanjut ke hepatitis kronik.Masa inkubasi 30
hari. Penularan melalui makanan atau minuman yang terkontaminasi faces pasien,
misalnya makan buah-buahan, sayur yang tidak dimasak atau makan kerang yang
setengah matang. Minum dengan es batu yang prosesnya terkontaminasi. Saat ini
sudah ada vaksin hepatitis A, memberikan kekebalan selama 4 minggu setelh
suntikan pertama, untuk kekebalan yang panjang diperlakukan suntikan vaksin
beberapa kali. Pecandu narkotik dan hubunga seks anal, termasuk homoseks
merupakan risiko tinggi terlular hepatitis A.
2.
Hepatitis B/hepatitis serum
Virus
hepatitis B adalah suatu virus DNA untai ganda yang disebut partikel dane.
Virus ini memiliki sejumlah antigen inti dn antigen permukaan yang telah
diketahui secara rinci dapat didentifikasi dari sampel darah hasil pemeriksaan
lab. Hepatitis B memiliki masa tunas yang lama, anara 1-7 bulan dengan awitan
rata-rata 1-2 bulan. Sekitar 5-10% orang dewasa yang terjangkit hepatitis B
akan mengalami heatits kronis dan terus dan terus mengalami peradangan hati
selama lebih dari 6 bulan. Gejalanya
mirip hepatitis A, mirip flu, yaitu hilangnya nafsu makan, mual, muntah, rasa
lelah, mata kuning dan muntah serta demam. Penularan dapat melalui jarum suntik
atau pisau yang terkontaminasi, transfuse darah dan gigitan manusia. Pengobatan
dengan interferon alfa -2b dan lamivudine, serta immunoglobulin yang mengandung
antibody terhadap hepatitis B yang diberikan 14 hari setelah paparan.Vaksin
hepatitis B yang aman dan efektif sudah tersedia sejak beberapa tahun yang
lalu. Yang merupakan risiko tertular hepatitis B adalah pecandu narkotika,orang
yang mempunyai banyak pasangan seksual.
3.
Hepatitis C
Hepatitis
c diidentifikasi pada tahun 1989, cara penularan virus RNA tersebut sama dengan
hepatitis B dan terutama ditularkan melalui traansfusi darah dikalangan
penduduk amerika serikat sebelum ada penapisan. Virus ini dapat dijumpai dalam semen dan sekresi
vagina tetapi jarang sekali pasangan seksual cukup lamadari pembawa hepatitis c
terinfeksi dengan virus ini. Masa tunas hepatitis c berkisar dari 15-150 hari,
dengan rata-rata 50 hari. Karena gejalanya cenderung lebih ringan dari
hepatitis B, individu mungkin tidak menyadari mereka mengidap infeksi serius sehingga tidak
datang ke
pelayanan kesehatan.Antibody terhadap hepatitis C dan virus itu sendiri dapat
di deteksi dalam darah, sehingga penapisan donor darah efektif.Adanya antibody
terhadap virus hepatitis C tidak berarti stadium kronis tidak terjadi. Saat ini
belum tersedia vaksin hepatitis C.
4.
Hepatitis D
Hepatitis
D virus (HDV) atau virus yang unik, yang tidak lengkap dan untuk replikasi memerlukan keberadaan virus
hepatitis B. penularan melalui hubungan seksual , jarum suntik dan transfuse
darah. Gejala penyakit hepatitis D bervariasi, dapat muncul gejala yang ringan
(ko infeksi) atau amat progresif. Agen hepatitis D ini meningkatkan resiko
timbulnya hepatitis fulminan, kegagalan hati dan kematian.pencegahan dapat
dilakukan dengan menghindari virus hepatitis B.
5.
Hepatitis E
Virus ini
adalah suatu virus RNA yang terutama ditularkan melalui ingesti air yang
tercemar. Gejala mirip hepatitis A, demam pegel linu, lelah,hilng nafsu makan
dan sakit perut. Penyakit yang akan sembuh sendiri (self limited) , kecuali bila terjadi kehamilan,
khususnya trimester tiga, dapat mematikan. Penularan melalui air yang terkontaminasi feces.
6.
Hepatitis F
Telah
diduga sebelumnya
bahwa penyebab lain dari agen parenteral sangat berperan dalam perjalanan virus
ini. Tetapi sampai saat ini masih terus dilakukan penelitiaan khususnya dalam tehnik
biologi molekuler untuk mencari solusi
yang terbaik dalam penanganan penykit ini.
7.
Hepatitis G
Virus ini
termasuk jenis virus RNA dan virus ini tersebar di seluruh dunia dan ditularkan
melalui kontaminasi darah/produk darah. Penularan lain seperti infeksi dari ibu
anak, seksual kontak juga telah dilaporkan. Gambaran klinis umumny ringan
tetapi dapat menjadi persisten atau menjadi hepatitis kronis. Meskipun demikian
kombinasi infeksi dengan virus hepatitis B/C tidak akan memperberat keadaan
penderita. Diagnose penyakit ini sampai sekarang dengan menggunakan uji
serologi belum dapat membantu karena hepatitis virus G tidak Nampak pada
deteksi uji serologi. Interferon dapat digunakan sebagai pengobatan pada
hepatitis G khususnya kombinasi infeki hepatitis B dan hepatitis C. meskipun
demikian hepatitis G menjadi sensitive oleh inferno.Banyak kasus mengalami
kekambuhan setelah dihentikan pengobatan dengan interferon.
D.
Patofisiologi
Virus atau bakteri yang menginfeksi manusia
masuk ke aliran darah dan terbawa sampai ke hati.di sini agen infeksi menetap
dan mengakibatkan peradangan dan terjadi kerusakan sel-sel hati (hal ini dapat
dilihat pada pemeriksaan SGOT dan SGPT). akibat kerusakan ini maka terjadi
penurunan penyerapan dan konjugasii bilirubin sehingga terjadi disfungsi
hepatosit dan mengakibatkan ikterik. peradangan ini akan mengakibatkan
peningkatan suhu tubuh sehinga timbul gejala tidak nafsu makan (anoreksia).
salah satu fungsi hati adalah sebagai penetralisir toksin, jika toksin yang
masuk berlebihan atau tubuh mempunyai respon hipersensitivitas, maka hal ini
merusak hati sendiri dengan berkurangnya fungsinya sebagai kelenjar terbesar
sebagai penetral racun. Aktivitas yang berlebihan yang memerlukan energi secara
cepat dapat menghasilkan H2O2 yang berdampak pada keracunan secara lambat dan
juga merupakan hepatitis non-virus.H2O2 juga dihasilkan melalui pemasukan
alkohol yang banyak dalam waktu yang relatif lama, ini biasanya terjadi pada
alkoholik.
Peradangan yang terjadi mengakibatkan hiperpermea-bilitas sehingga terjadi pembesaran hati, dan hal ini dapat diketahui dengan meraba / palpasi hati.Nyeri tekan dapat terjadi pada saat gejala ikterik mulai nampak.
Peradangan yang terjadi mengakibatkan hiperpermea-bilitas sehingga terjadi pembesaran hati, dan hal ini dapat diketahui dengan meraba / palpasi hati.Nyeri tekan dapat terjadi pada saat gejala ikterik mulai nampak.
Hepatitis viral dapat dibagi menjadi dua
kelompok yaitu kronik dan akut.Klasifikasi hepatitis viral akut dapat dibagi
atas hepatitis akut viral yang khas, hepatitis yang tak khas (asimtomatik),
hepatitis viral akut yang simtomatik, hepatitis viral anikterik dan hepatitis
viral ikterik.Hepatitis virus kronik dapat diklasifikasikan dalam 3 kelompok
yaitu hepatitis kronik persisten, hepatitis kronik lobular, dan hepatitis
kronik aktif.Virus hepatitis A mempunyai masa inkubasi singkat/hepatitis
infeksiosa, panas badan (pireksia) didapatkan paling sering pada hepatitis A.
Hepatitis tipe B mempunyai masa inkubasi lama atau disebut dengan hepatitis
serum.
Hepatitis akibat obat dan toksin dapat
digolongkan ke dalam empat bagian yaitu: hepatotoksin-hepatotoksin direk,
hepatotoksin-hepatotoksin indirec, reaksi hipersensitivitas terhadap obat, dan
idiosinkrasi metabolik.
A.
Tanda dan Gejala
1.
Masa tunas
Virus
A : 15-45 hari (rata-rata 25 hari)
Virus
B : 40-180 hari (rata-rata 75 hari)
Virus
non A dan B : 15-150 hari (rata-rata 50 hari)
2.
Fase Pre Ikterik
Keluhan umumnya tidak
khas.Keluhan yang disebabkan infeksi virus berlangsung sekitar2-7 hari.Nafsu
makan menurun (pertama kali timbul), nausea, vomitus, perut kanan atas (ulu
hati) dirasakan sakit. Seluruh badan pegel-pegel terutama di pinggang, bahu dan
malaise, lekas capek terutama sore hari, suhu badan meningkat 39oC
berlangsung selama 2-5 hari, pusing, nyeri persendian. Keluhan gatal-gatal
mecolok pada hepatitis virus B.
3.
Fase Ikterik
Urine berwarna seperti the
pekat, tinja berwarna pucat, penurunan suhu badan disertai dengan
bradiikardi.Ikterus pada kulit dan sclera yang terus meningkat padaminggu 1,
kemudian menetap dan baru berkurang setelah 10-4 hari. Kadang-kadang disertai
gatal-gatal pada seluruh
badan, rasa lesu dan lekas capai dirasakan selama1- minggu
4.
Fase penyembuhan
Dimuai saat menghilangnya
tanda-tanda ikterus, rasa mual, rasa sakit di ulu hati, disusul bertambahnya
nafsu makan, rata-rata 14-15 hari setelah timbulnya masa ikterik. Warna urine
tampak
normal, penderita mulai merasa segar kembali, namun lemas dan lekas capai.
F. Pemeriksaan Diagnostik
Laboratarium
a.
Pemeriksaan pigmen
·
Urobilirubin direk
·
Billirubin serumt total
·
Bilirubin urine
·
Urobilinogen urine
·
Urobilinogen feses
b.
Pemeriksaan protein
·
Protein total serum
·
Albumin serum
·
Globulin serum
·
HbsAG
c.
Watu protombin
·
Respon waktu protombin terhadap
vitain
d.
Pemeriksaan serum transferase
dan transminase
·
AST atau SGOT
·
ALT atau SGPT
·
LDH
·
Amonia serum
Tes darah yang dipakai untuk diagnosis
infeksi HBV dapat membingungkan, karena ada berbagai kombinasi antigen dan
antibodi yang berbeda, dan masing-masing kombinasi mempunyai artinya sendiri.
Berikut adalah arti dari kombinasi yang mungkin terjadi:
HBsAg
|
Anti-HBc
IgM |
Anti-HBc
IgG |
Anti-HBs
|
Status hepatitis B
|
Negatif
|
Negatif
|
Negatif
|
Negatif
|
Tidak pernah terinfeksi (pertimbangkan
divaksinasikan)
|
Positif
|
Positif
|
Positif
|
Negatif
|
Terinfeksi, kemungkinan dalam enam bulan
terahkir, masih aktif
|
Negatif
|
Positif
|
Positif
|
Negatif
|
Terinfeksi, kemungkinan dalam enam bulan
terahkir, dan dalam proses pemulihan
|
Negatif
|
Negatif
|
Positif
|
Positif
|
Terinfeksi, kemungkinan terjadi lebih
dari enam bulan yang lalu, dan dikendalikan secara sukses oleh sistem
kekebalan tubuh
|
Negatif
|
Negatif
|
Negatif
|
Positif
|
Pernah divaksinasi terhadap infeksi HBV
secara sukses
|
Positif
|
Negatif
|
Positif
|
Negatif
|
Infeksi HBV kronis
|
1.
Radiologi
a.
Foto rontgen abdomen
Hanya dengan
penggunaan X-Ray dapat menemukan pembesaran liver dengan menempatkan X-Ray
tepat diatas bagian abdominal.
b.
Pemindahan hati dengan preparat
technetium, emas, atau rose Bengal yang berlabel radioaktif
c.
Koletogram dan kalangiogram
d.
Arterioggrafi pembuluh darah
seliaka
2.
Pemeriksaan tambahan
a.
Laparoskopi
b. Biopsy hati
Biopsi membedakan antara antif kronik dengan
Hepatitis kronik persisten. Penemuan jaringan lemak yang masuk pada spesimen
biopsy liver dan peradangan dengan neutrofil yang tetap dengan Hepatitis
Laennecs ( yang disebabkan oleh alkohol ).
G. Penatalaksanaan
a)
Tirah baring selama fase akut
dengan diet yang cukup bergizi merupakan atuuran yang lazim.
b)
Diet TKTP, pemberian makanan
intravena mungkin perlu selama fase akut bila pasien terus-menerus muntah.
c)
Aktivitas fisik biasanya perlu
dibatasi hingga gejala-gejala mereda dan tes fungsi hati kembali normal.
d)
Terapi sesuai intruksi dokter
e)
Jaga kebersihan perorangan dan
likungan
f)
Alat-alat makan diisterilkan
g)
Alat-alat tenun sebelum dicuci
direndam dahulu antiseptic
H.Komplikasi
Pada perkembangannya, penyakit
hepatitis terutama yang menetap atau kronis, sering mengalami komplikasi,
seperti sirosis hati dan kanker hati (hepatoma).
1.
Sirosis hati
Merupakan penyakit hati
kronis yang ditandai dengan kerusakan sel-sel hati oleh jaringan-jaringan ikat,
diikuti dengan parut serta diiringi pembentukan ratusan nodules
(benjolan).Penyakit ini mengubah struktur hati dari jaringan hati bnormal
menjadi benjolan-benjolan keras yanmg abnormal dan mengubah pembuluh
darah.jaringan parut menghambat aliran darah ke hati dan menambah tekanan darah
di perut menhambat aliran darah ke hati dan menambah tekanan darah di
perut.Hati yang mengalami sirosi kelihatan berbenjol-benjol, penuh parut,
berlemak, dan berwarna kuning jingga.Kemungkinan lainnya, hati hati menjadi
mengecil, berkerut dan keras.
2.
Kanker hati primer (karsinoma
hepatoseluler)
karsinoma hepatoseluler atau hepatoma merupakan tumor hati primer
yang berasal dari jaringan hati sendiri. Penyakit ini lebih banyak menyerang
laki-laki (terutama 60 tahun keatas) dibandingkan pada wanita. Hepatoma belum
diketahui pasti penyebabnya, tetapi beberapa faktor risiko yang dapat
meningkatkan terjadinya kanker :
·
Penderita sirosis hati dan
penyakit hati degeneratif
·
Hepatitis B dan C (hepatitis
kronis) sekitar 80 % dari kanker hati terjadi dari hepatitis B kronis.
·
Infeksi cacing hati (clonorchis
sinensis)
·
Kemungkinan pada anak-anak
bersifat turunan.
Hepatoma
adalah jenis kanker yang sangat sulit diobati (prognosis buruk), hanya efektif
diatasi dengan transpalantasi hati.Oleh karena itu, lakukan pencegahan sedini
mungkin. Seperti menghindari minuman beralkohol, menghindari makanan berjamur
dan melakukan vaksinasi hepatitis (terutama hepatitis B)
3. Enselofalati
Ensefalopati Hepatik(EH) adalah suatu sindroma
neuropsikiatrik kompleks yang ditandai dengan gangguan kesadaran dan
kelakuan,perubahan kepribadian,gejala neurologik yang berfliktuasi,serta
perubahan nyata dari Electroencephalography(EEG).
Gangguan faal hati yang berat dan atau adanya
pintas intra hepatic dan ekstra hepatikdari aliran darah vena porta kedalam
sirkulasi sistemik sehingga sebagian besar hati tidak terlewati.akibatnya
bermacam zat racun yang berasal bari usus tidak dapat di detoksifikasi di dalam
hati dan menimbulkan gangguan metabolit di system saraf pusat(SSP)
Konsep Dasar Asuhan Keperawatan
Proses
perawatan adalah suatu metode yang sistematik dan terorganisir dalam
pemberian askep yang difokuskan pada reaksi/respon manusia unik pada
suatu kelompok/perorangan terhadap gangguan kesehatan yang dialami baik
aktual maupun resiko.
- Pengkajian
Tahap
pengkajian dari proses keperawatan merupakan proses dinamis yang
terorganisir yang meliputi tiga aktivitas dasar : mengumpulkan data,
menyortir dan mengatur data yang dikumpulkan, mendokumentasikan data
yang dikumpulkan, mendokumentasikan data dalam format yang dapat dibuka
kembali. Dengan menggunakan beberapa teknik, anda berfokus pada
pendapatan profil pasien yang akan memungkinkan untuk mengidentifikasi
masalah-masalah pasien dan diagnosa yang cocok, merencanakan masalah,
mengimplementasikan intervensi dan mengevaluasi hasil. Profil ini
disebut data-data pasien.
Data
dasar pasien memberikan suatu pengertian tentang status kesehatan
pasien yang menyeluruh. Data tergantung pada penyebab dan beratnya
kerusakan/gangguan hati.
Data dasar pengkajian pasien
a. Aktivitas/istirahat
Gejala : Kelemahan, kelelahan, malaise umum.
b. Sirkulasi
Tanda : Bradikardi (hiperbilirubinemia berat). Ikterik pada sklera, kulit dan membran mukosa.
c. Eliminasi
Gejala : Urine gelap, diare/konstipasi : faeces warna tanah liat,adanya/ berulangnya hemodialisa.
d. Makanan dan cairan
Gejala : Hilang nafsu makan (anoreksia, penurunan berat badan atau meningkat (oedema), mual/muntah.
e. Neurosensori
Tanda : Peka rangsang, cenderung tidur, letargi, asteriktis.
f. Nyeri/kenyamanan
Gejala : Kram abdomen, nyeri tekan pada kuadran kanan atas, artalgia, mialgia, sakit kepala (pruritus).
Tanda : Otot tegang, gelisah.
g. Pernafasan
Tanda : Tidak minat/enggan merokok (perokok).
h. Keamanan
Gejala : Adanya transfusi darah/produk darah.
Tanda : Demam
Urtikaria, lesi makula papular, eritema tak beraturan eksaserbasi jerawat.
Angioma jaring-jaring, eritema palmar, ginekomastia (kadang-kadang ada pada hepatitis alkoholik).
i. Seksualitas
Gejala : Pola hidup/perilaku meningkatkan resiko terpanjang (contoh : homoseksual aktif/biseksual pada wanita).
- Identifikasi/Analisa masalah (Diagnosa Keperawatan)
Tahap
kedua dari proses keperawatan sering disebut juga sebagai analisis, dan
juga identifikasi masalah atau diagnosa keperawatan. Proses ini amat
penting dan esensial karena proses ini merupakan satu bagian yang
paling vital dalam proses keperawatan.
Diagnosa keperawatan :
a. Intolerans aktivitas berhubungan dengan :
Kelemahan umum : penurunan kekuatan/ketahanan : nyeri.
Mengalami keterbatasan aktivitas : depresi.
b. Perubahan
nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan kegagalan
masukan untuk memenuhi kebutuhan metabolik : anoreksia, mua/muntah,
gangguan absorbsi dan metabolisme pencernaan makanan : penurunan
peristaltik (refleks viseral), empedu tertahan.
c. Kekurangan volume cairan dan diare, perpindahan area ke tiga (acites), gangguan proses pembekuan
d. Harga diri rendah situasional berhubungan dengan
Gejala : Jengkel/marah, terkurung/isolasi, sakit lama/periode penyembuhan.
e. Potensial
terjadi penularan pada orang lain serta staf medis berhubungan dengan :
kontak dengan pasien serta pengelolaan alat-alat.
f. Resiko terjadinya kerusakan integritas kulit berhubungan dengan zat kimia, akumulasi garam empedu dalam jaringan.
g. Kurang
pengetahuan tentang kondisi, prognosis, dan kebutuhan pengobatan
berhubungan dengan salah interpretasi, tidak mengenal sumber informasi.
- Perencanaan
Diagnosa keperawatan :
a. Aktivitas intoleran berhubungan dengan :
- Kelemahan umum, penurunan kekuatan otot/ketahanan : nyeri.
- Mengalami keterbatasan aktivitas.
Data subyektif : Laporan kelemahan.
Data objektif : Tampak lemah, kekuatan otot menurun, istirahat di tempat tidur.
* Tujuan
- Menyatakan pemahaman situasi/faktor resiko dan program pengobatan individu.
* Kriteria
- Menunjukkan teknik/perilaku kemampuan kembali melakukan aktivitas.
- Melaporkan kemampuan melakukan peningkatan toleransi aktivitas.
* Tindakan keperawatan
1.) Tingkatkan tirah baring/duduk. Berikan lingkungan tenang, batasi pengunjung.
Rasional :
Meningkatkan ketenangan, menyediakan energi yang digunakan untuk penyembuhan.
2.) Ubah posisi dengan sering, perawatan kulit yang baik.
Rasional :
Meningkatkan fungsi pernafasan dan meminimalkan tekanan pada area tertentu untuk menurunkan resiko kerusakan jaringan.
3.) Lakukan tugas dengan cepat dan sesuai toleransi.
Rasional :
Memungkinkan periode tambahan istirahat tanpa gangguan.
4.) Tingkatkan aktivitas sesuai intoleransi, bantu melakukan rentang gerak sedikit pasif/aktif.
Rasional :
Tirah baring yang lama dapat menurunkan kemampuan, ini dapat terjadi karena keterbatasan aktivitas.
5.) Berikan aktivitas hiburan yang tepat contoh menonton TV, membaca, mendengarkan radio.
Rasional :
Meningkatkan relaksasi dan penghematan energi, memusatkan kembali perhatian, dan dapat meningkatkan koping.
6.) Awasi terulangnya anoreksia dan nyeri tekan pembesaran hati.
Rasional :
Menunjukkan kurangnya resolusi/eksaserbasi penyakit, memerlukan istirahat lanjut, mengganti program terapi.
Kolaborasi :
Membantu menentukan kadar aktivitas yang tepat, sebagai peningkatan prematur pada potensial resiko berulang.
b. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan anoreksia, mual.
Data subjektif : Kurang nafsu makan, nyeri abdomen/kram.
Data obyektif : Porsi makan tidak dihabiskan, berat badan menurun, muntah.
* Tujuan
- Menunjukkan berat badan yang meningkat atau kembali normal.
- Diet yang dianjurkan dapat ditoleransi tanpa rasa tak nyaman.
* Kriteria
- Berat badan meningkat mencapai tujuan dengan nilai laboratorium normal dan bebas tanda malnutrisi.
* Tindakan keperawatan
1.) Awasi
pemasukan diet/jumlah kalori. Berikan makanan sedikit tapi sering dalam
frekuensi sering dan tawarkan makanan pagi paling besar.
Rasional :
Makanan
banyak sulit mengatur bila pasien anoreksia. Anoreksia juga paling
buruk selama siang hari, membuat masukan makanan yang sulit pada sore
hari.
2.) Berikan perawatan mulut sebelum makan.
Rasional :
Menghilangkan rasa tidak enak, meningkatkan nafsu makan.
3.) Anjurkan makan pada posisi duduk tegak.
Rasional :
Menurunkan rasa penuh pada abdomen dan dapat meningkatkan pemasukan.
4.) Dorongan pemasukan sari jeruk, minuman karbohidrat dan permen berat sepanjang hari.
Rasional :
Bahan ini merupakan ekstra kalori dan dapat lebih mudah dicerna, toleran bila makanan lain tidak.
5.) Berikan obat sesuai indikasi : Vit. B Comp, tambahan diet lain sesuai indikasi.
Rasional :
Memperoleh kekurangan dan membantu proses penyembuhan.
Kolaborasi :
6.) Konsul
pada ahli diet. Dukungan tim nutrisi untuk memberikan diet sesuai
kebutuhan pasien dengan pemasukan lemak dan protein sesuai toleransi.
Rasional :
Berguna
dalam membuat program diet memenuhi kebutuhan individu. Metabolisme
lemak bervariasi tergantung pada produksi pengeluaran empedu dan
perlunya pembatasan masukan lemak bila terjadi diare. Bila toleransi
pemasukan normal atau lebih protein akan membantu regenerasi hati.
Pembatasan protein diindikasikan pada penyakit berat karena akumulasi
produk akhir protein dapat mencetuskan hepati ensefalopati.
7.) Berikan tambahan makanan/nutrisi dukungan total bila dibutuhkan.
Rasional :
Mungkin perlu untuk memenuhi kebutuhan kalori bila tanda kekurangan terjadi/gejala memanjang.
c. Resiko tinggi kekurangan volume cairan berhubungan dengan kehilangan cairan melalui muntah dan diare, ditandai dengan :
Data subyektif : -
Data obyektif : Muntah dan diare.
* Tujuan
Mempertahankan hidrasi adekuat.
* Kriteria
- Tanda-tanda vital stabil, turgor kulit normal, masukan dan keluaran seimbang.
* Tindaka keperawatan
1.) Awasi masukan dan haluaran, bandingkan dengan berat badan harian, catat kehilangan melalui usus, contoh muntah dan diare.
Rasional :
Memberikan informasi tentang kebutuhan pengganti/efek terapi.
2.) Kaji tanda vital, nadi perifer, pengisian kapiler, turgor kulit dan membran mukosa.
Rasional :
Indikator volume sirkulasi/perifer.
3.) Periksa acites atau pembentukan oedema, ukur lingkar abdomen sesuai indikasi.
Rasional :
Menerangkan kemungkingan perdarahan ke dalam jaringan.
4.) Biarkan pasien menggunakan lap katun/spon dan pembersih mulut untuk sikat gigi.
Rasional :
Menghindari trauma dan perdarahan gusi.
5.) Awasi nilai laboratorium, contoh Hb/Ht, Na + albumin dan waktu pembekuan.
Rasional :
Menunjukkan hidrasi dan mengidentifikasi retensi natrium/kadar protein yang dapat menimbulkan pembentukan oedema.
6.) Berikan cairan IV, elektrolit.
Rasional :
Memberikan cairan dan penggantian elektrolit.
7.) Protein hidrolisat : vitamin K
Rasional :
Memperbaiki
kekurangan albumin/protein dapat membantu mengembalikan cairan dari
jaringan ke sistem sirkulasi, mencegah masalah koagulasi.
d. Harga diri rendah berhubungan dengan gejala jengkel/marah, terkurung/ isolasi, sakit lama/periode penyembuhan.
Data subyektif : Perasaan tak berdaya.
Data obyektif : Perawatan isolasi, icterus pada mata dan seluruh tubuh.
* Tujuan
Mengidentifikasi perasaan dan metode untuk koping terhadap persepsi negatif.
* Kriteria
- Menyatakan penerimaan diri dan lamanya penyembuhan/ kebutuhan isolasi.
- Mengakui diri sebagai orang tua yang berguna.
* Tindakan keperawatan
1.) Kontak dengna pasien mengenai waktu untuk mendengar.
Rasional :
Penyediaan waktu meningkatkan hubungan saling percaya.
2.) Dorong diskusi perasaan marah.
Rasional :
Kesempatan
untuk mengekspresikan perasaan memungkinkan pasien untuk merasa lebih
mengontrol situasi. Pengungkapan menurunkan cemas dan depresi
memudahkan perilaku koping positif.
3.) Hindari membuat penilaian neoral tentang pola hidup.
Rasional :
Pasien merasa marah/kesal dan mengalahkan diri : penilaian dari orang lain akan merusak harga diri lebih lanjut.
4.) Diskusikan harapan penyembuhan.
Rasional :
Periode penyembuhan mungkin lama/potensial stres keluarga/ situasi dan memerlukan perencanaan, dukungan dan evaluasi.
5.) Kaji efek penyakit pada faktor ekonomi pasien/orang terdekat.
Rasional :
Masalah finansial dapat terjadi karena kehilangan peran fungsi pasien pada keluarga/penyembuhan lama.
6.) Tawarkan aktivitas senggang berdasarkan tingkat energi.
Rasional :
Memampukan
pasien untuk menggungkan waktu dan energi pada cara konstruktif yang
meningkatkan harga diri dan meminimalkan cemas dan depresi.
7.) Anjurkan pasien menggunakan warna merah terang atau biru/hitam daripada kuning atau hijau.
Kolaborasi
8.) Buat
rujukan yang tepat untuk membantu, sesuai kebutuhan, contoh perencanaan
pulang, pelayanan masyarakat dan atau lembaga komunitas lain.
Rasional :
Dapat memudahkan pemecahan masalah dan membantu melibatkan individu untuk mengatasi masalah.
e. Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan pertahankan tubuh sekunder tak adekuat dan malnutrisi.
Data subyektif : -
Data obyektif : - Klien dirawat di ruangan isolasi
- Faeces warna dempul.
- Urine warna pekat.
* Tujuan
Mencegah penularan kepada orang lain.
* Kriteria
Mendemonstrasikan/melakukan
teknik-teknik/cara penularan penyakit. Perubahan-perubahan teknik ulang
perilaku atau mencegah penularan penyakit terhadap orang lain.
* Tindakan keperawatan
1.) Terapkan teknik isolasi dengan cara yang tepat
- Gunakan celemek dan sarung tangan bila mengadakan kontak dengan klien (berhati-hati terhadap kontaminasi dengan alat-alat suntik klien seperti darah dan sekretnya).
- Cuci tangan sebelum dan sesudah melakukan tindakan.
Rasional :
Mencegah
transmisi penyakit virus ke orang lain. Melalui cuci tangan yang
efektif dalam mencegah transmisi virus tipe C di transmisikan melalui
terpajan pada darah dan produk darah.
2.) Jelaskan prosedur isolasi kepada klien dan keluarga.
Rasional :
Mencegah transmisi penyakit virus ke orang lain.
3.) Membahas pentingnya imunisasi kepada klien, keluarga dan tenaga kesehatan.
f. Resiko tinggi terhadap kerusakan integritas kulit/jaringan berhubungan dengan zat kimia, akumulasi garam empedu dalam jaringan.
Data subyektif : Pengungkapan rasa gatal.
Data obyektif : Bilirubin meningkat.
* Tujuan
Klien akan mengungkapkan tidak terjadi gangguan integritas kulit.
* Kriteria
- Jaringan kulit utuh tanpa lecet/luka.
- Gatal-gatal berkurang/hilang.
* Tindakan keperawatan
1.) Gunakan air mandi dingin dan soda kue atau mandi kanji. Hindari sabun mandi alkali.
Rasional :
2.) Anjurkan untuk menggunakan buku-buku jari untuk menggaruk rasa gatal, pertahankan kuku pendek.
Rasional :
Menurunkan resiko cedera kulit.
3.) Beri massage pada waktu tidur.
Rasional :
Bermanfaat dalam meningkatkan tidur dengan menurunkan iritasi kulit.
4.) Hindari komentar tentang penampilan pasien.
Rasional :
Menimbulkan stres psikologik sehubungan dengan perubahan kulit.
Kolaborasi
5.) Berikan obat sesuai indikasi ; antihistamin contoh : metdilazin, difenhidramin.
Rasional :
Menghilangkan gatal, catatan : gunakan terus-menerus pada hepatik hebat.
g. Kurang
pengetahuan tentang kondisi, prognosis dan kebutuhan pengobatan
berhubungan dengan salah interpretasi informasi, tidak mengenal sumber
informasi ditandai dengan :
Data subyektif : Pernyataan yang salah konsepsi.
Data obyektif : Pernyataaan/meminta informasi.
* Tujuan
Menyatakan pemahaman proses penyakit dan pengobatan.
* Kriteria
- Mengidentifikasi hubungan tanda/gejala penyakit dan hubungan dan gejala dengan faktor penyebab.
- Melakukan perubahan perilaku dan berpatisipasi pada pengobatan.
* Tindakan keperawatan
1.) Kaji tingkat pemahaman proses penyakit, harapan/prognosis, kemungkinan pilihan pengobatan.
Rasional :
Mengidentifikasi
area kekurangan/salah informasi dan memberikan kesempatan untuk
memberikan informasi tambahan yang sesuai keperluan.
2.) Berikan informasi khusus tentang pencegahan/penularan penyakit.
Rasional :
Kebutuhan/rekomendasi akan bervariasi karena hepatitis dan situasi individu.
3.) Bantu pasien mengidentifikasi aktivitas pengalih.
Rasional :
Aktivitas yang dapat dinikmati akan dapat membantu menghindari pemusatan pada penyembuhan panjang.
4.) Diskusikan pembatasan donatur darah.
Mencegah
penyebaran penyakit. Kebanyakan undang-undang negara bagian menerima
donor darah yang mempunyai riwayat berbagai tipe hepatitis.
5.) Tekankan pentingnya mengevaluasi pemeriksaan fisik dan evaluasi laboratorium.
Rasional :
Proses
penyakit dapat memakai waktu berbulan-bulan untuk membaik. Bila gejala
ada lebih lama dari enam bulan. Biopsi hati diperlukan untuk memastikan
adanya hepatitis kronis.
6.) Kaji ulang perlunya menghindari alkohol selama 6 – 12 bulan minuman atau lebih lama sesuai toleransi individu.
Rasional :
Meningkatkan iritasi hepatik dan mempengaruhi pemulihan.
- Implementasi
Merupakan
tahan keempat dari proses keperawatan dimana rencana keperawatan
dilaksanakan : melaksanakan intervensi/aktivitas yang telah ditentukan,
pada tahap ini perawat siap untuk melaksanakan intervensi dan aktivitas
yang telah dicatat dalam rencana perawatan pasien.
Pelaksanaan
keperawatan/implementasi harus sesuai dengan rencana yang telah
ditetapkan sebelumnya dan pelaksanaan ini disesuaikan dengan masalah
yang terjadi. Dalam pelaksanaan keperawatan ada 4 tindakan yang
dilakukan yaitu :
a. Tindakan mandiri
b. Tindakan observasi
c. Tindakan health education
d. Tindakan kolaborasi
Xn casino online【VIP】xn pokies casino bonus
BalasHapusxn pokies casino bonus. worrione xn pokies casino bonus. xn pokies casino 메리트 카지노 주소 bonus. Online casino, xn 인카지노 pokies casino bonus.